Sabtu, 21 Mei 2016

Semantic

Semantics  is the study of meaning. It focuses on the relationship between signifiers—likewords, phares, sings, and symbol—and what they stand for, their denotation. Linguistic semantics is the study of meaning that is used for understanding human expression through language. Other forms of semantics include the semantics of programming languages, formal logics, and semiotics. In international speciffic vocabullary semantics is also calledsemasicology.
The word semantics was first used by michel brel, a French philologist. It denotes a range of ideas—from the popular to the highly technical. It is often used in ordinary language for denoting a problem of understanding that comes down to word selection or con. This problem of understanding has been the subject of many formal enquiries, over a long period of time, especially in the field of formal semantics. In linguistics, it is the study of the interpretation of signs or symbols used in agents or communities within particular circumstances and contexts. Within this view, sounds, facial expressions, body language, andproxemics have semantic (meaningful) content, and each comprises several branches of study. In written language, things like paragraph structure and punctuation bear semantic content other forms of language bear other semantic content.
The formal study of semantics intersects with many other fields of inquiry, including lexicology,syntaxpragmaticsetymology and others. Independently, semantics is also a well-defined field in its own right, often with synthetic properties. In the philosophy of language, semantics and reference are closely connected. Further related fields include philologycommunication, and semiotics. The formal study of semantics can therefore be manifold and complex.
Semantics contrasts with syntax, the study of the combinatorics of units of a language (without reference to their meaning), and pragmatics, the study of the relationships between the symbols of a language, their meaning, and the users of the language. Semantics as a field of study also has significant ties to various representational theories of meaning including truth theories of meaning, coherence theories of meaning, and correspondence theories of meaning. Each of these is related to the general philosophical study of reality and the representation of meaning.
Jenis-jenis Semantik 

 Beberapa jenis semantik yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari  bahasa itu yang menjadi objek penyelidikannya, yaitu:

 Semantik Leksikel

 Leksikel adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (
vocabulary,
kosakata, pembendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan kata yang bermakna ( Chaer, 2002: 60 dalam Wahab 1995 ). Kalau leksikon disamakan dengan kosakata atau  perbendaharaan kata, maka leksem dapat disamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikel dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Makna leksikel dapat juga diartikan makna yang sesuai dengan acuannya, makna yang sesuai dengan hasil observasi panca indera, atau makna yang
sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Kajian makna bahasa yang lebih memusatkan pada peran unsur bahasa atau kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu bahasa lazim disebut sebagai semantik leksikel.

Semantik Gramatikal

 Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses-proses pembentukannya; sedangkan sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan kata, maupun satuan sintaksis yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat, jelas ada maknanya. Baik proses morfologi dan  proses sintaksis itu sendiri juga makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yaitu yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
 
 Semantik Kalimat

 Verhaar (1978: 126 dalam Parera 2004) mengutarakan semantik kalimat yang membicarakan hal-hal seperti soal topikalisasi kalimat yang merupakan masalah semantik, namun bukan masalah ketatabahasaan. Tentang semantik kalimat ini menurut beliau memang masih belum banyak menarik perhatian para ahli linguistik.
Function of Semantic
The purpose of semantic is to propose exact meanings of the words and phrases and remove confusion, which might lead the readers to believe a word has many possible meanings. It makes a relationship between a word and the sentence through their meanings. Besides, semantic enables the readers to explore a sense of the meaning, because if we remove or change the place of a single word from the sentence, it will change the entire meanings, or else the sentence will become anomalous. Hence, the sense relation inside a sentence is very important, as a single word does not carry any sense or meaning.
Example
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d…
The above-mentioned quote, “That which we call a rose…sweet” is, in fact, conveying figurative meaning. However, its surrounding text clarifies the meanings. Juliet is using metaphoric language and arguing with Romeo that his family name is not important for her, because she only wants Romeo.
Pengertian Tanda, Lambang, Konsep, dan Definisi Tanda dalam bahasa Indonesia pertama-tama adalah berarti “bekas”.Pukulan rotan yang cukup keras pada punggung akan memberi bekas. Bekas  pukulan itu, yang berwarna kemerahan, menjadi tanda akan telah terjadi suatu  pukulan dengan rotan pada tempat tersebut. Dari contoh diatas kita dapat melihat  bahwa dengan hal yang ditandai bersifat langsung. 
Lambang sebenarnya juga adalah tanda. Hanya bedanya lambang ini tidak memberi tanda secara langsung, melainkan melalui sesuatu yang lain. Warna merah pada bendera sang merah putih merupakan lambang “kesucian”. Seperti kata Ogden dan Richard (1972 : 9) lambang ini bersifat konvensional, perjanjian, tetapi ia dapat diorganisir, direkam dan dikomunikasikan. Bunyi-bunyi bahasa atau satuan bahasa sebenarnya termasuk lambang sebab sifatnya konvensional. Untuk memahami makna atau yang diacu oleh bunyi-bunyi  bahasa itu kita harus mempelajarinya. Simbol adalah kata serapan yang berpadangan dengan kata Indonesia lambang. Dalam karangan ini kedua kata itu dianggap mewakili konsep yang sama, meskipun mungkin distribusi penggunaan berbeda. Lambang bahasa yang berupa kata, gabungan kata, maupun satuan ujaran lainnya sama dengan lambang dan tanda dalam bidang lain “mewakili” suatu konsep yang berada didunia ide atau pikiran kita. Umpamanya kata (kursi) “mewakili” suatu konsep dalam benak kita berupa benda yang bisa digunakan sebagai tempat duduk dengan wujudnya yang sedemikian rupa sehingga nyaman untukdi duduki. Konsep sebagai referen dari suatu lambang memang tidak pernah bisa “sempurna”. Oleh karena itulah, kalau kita menyebut (kursi) atau (pemuda) atau lambang apa saja, orang sering bertanya “apa yang anda maksud dengan kursi itu ?” atau juga “apa atau siapa yang anda maksud dengan pemuda itu? Semua itu  berusaha merumuskan konsep-konsep yang ada dalam dunia, idenya dalam suatu rumusan yang disebut definisi atau batasan. Secara umum definisi atau batasan ini memberi rumusan yang lebih teliti mengenai suatu konsep.
Jenis-jenis Semantik 
 Beberapa jenis semantik yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari  bahasa itu yang menjadi objek penyelidikannya, yaitu: 
Semantik Leksikel
 Leksikel adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vocabulary, kosakata, pembendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan kata yang bermakna ( Chaer, 2002: 60 dalam Wahab 1995 ). Kalau leksikon disamakan dengan kosakata atau  perbendaharaan kata, maka leksem dapat disamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikel dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Makna leksikel dapat juga diartikan makna yang sesuai dengan acuannya, makna yang sesuai dengan hasil observasi panca indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Kajian makna bahasa yang lebih memusatkan pada peran unsur bahasa atau kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu bahasa lazim disebut sebagai semantik leksikel. 
Semantik Gramatikal
 Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses-proses pembentukannya; sedangkan sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan kata, maupun satuan sintaksis yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat, jelas ada maknanya. Baik proses morfologi dan  proses sintaksis itu sendiri juga makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yaitu yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut. 
Semantik Kalimat
 Verhaar (1978: 126 dalam Parera 2004) mengutarakan semantik kalimat yang membicarakan hal-hal seperti soal topikalisasi kalimat yang merupakan masalah semantik, namun bukan masalah ketatabahasaan. Tentang semantik kalimat ini menurut beliau memang masih belum banyak menarik perhatian para ahli linguistik.

1 komentar: